Minggu, 27 Mei 2012

KONSEP MANUSIA SEBAGAI BIO - PSIKO - SOSIAL - SPIRITUAL.


KONSEP MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BIO-PSIKO-SOSIAL-SPIRITUAL
Manusia adalah makhluk misteriusyang banyak hal tentang manusia yg belum terungkap – Mengapa manusia berbuat sesuatu untuk sesuatu? Manusia adalah makhluk unik yang tidak penah sama, individu yang identik (sama) kendati dibesarkan dlm suatu kondisi lingkungan yg sama pula. Manusia selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Dalam mencapai kebutuhannya tersebut, manusia mencoba belajar menggali dan menggunakan sumber-sumber yang diperlukan berdasarkan potensi dengan segala keterbatasannya. Manusia secara terus menerus menghadapi berbagai perubahan lingkungan dan selalu berusaha menyesuaikan diri agar tercapai keseimbangan yang interaksi dengan lingkungan dan menciptakan hubungan antar manusia secara serasi. Dalam teori keperawatan sering memandang manusia sebagai manusia holistik yang Bio-Psiko-Sosial-Spiritual yaitu :
a)      Memiliki sifat jasmaniah yang terpadu dalam sistem organism
·      masing-masing mempunyai fungsi
·       tunduk pada hakekat hukum alam lahir-berkembang-tua-mati
·      mempunyai individu
b)      Sebagai makhluk hidup yang memiliki jiwa
·       Ia diperintah/dikendalikan oleh ego
·       Ia dipengaruhi oleh perasaan,kata hati
·       Ia memiliki daya pikir karena mempunyai intelegensia
·      Ia memiliki aspek spiritual dlm aspek terjang
c)      Sebagai makhluk social
·       Ia dilahirkan, hidup, berperan di tengah-tengah masyarakat dengan                                 norma serta sistem nilainya.
·      Ia adalah anggota keluarga, masyarakat, dunia
·      Ia memiliki peranan yg harus ia sumbangkan untuk kepentingan dirinya,                     masyarakat.


d)      Sebagai makhluk dengan dasar spiritual
·      Ia memiliki keyakinan dan kepercayaan
·       Ia menyembah tuhan atau sembahyang
Adaptasi secara umum ( GAS ) dapat diperinci menjadi lima tingkatan, dan mungkin masih terjadi tumpang tindih atau pergeseran diantara tingkatan tersebut. Pembagian tingkatan ini berdasarkan pada jumlah dan kekuatan stress, kemampuan orang bereaksi serta ketepatan reaksi itu sendiri.
A.                  Tingkat I
Adaptasi ini merupakan reaksi pertahanan ( adaptasi defensif ) yang normal terhadap stress, biasanya terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Individu tersebut mampu untuk menurunkan stress awal dengan adaptasi fisiologis atau psikologis, dan pada umumnya tidak disadari, misalnya refleks muntah bila perut kemasukan zat yang merangsang atau asing, pembekuan darah pada saat terjadi luka pada jaringan. Secara psikologis mekanisme pertahanan yang dipakai antara lain rasionalisasi, fantasi, hal ini ditujukan untuk mengurangi kecemasan dan melindungi ego. Adaptasi tingkat I ini bersifat sementara dan sebagian besar ditujukan untuk melindungi, memperbaiki serta mempertahankan status diri.
B.                  Tingkat II
Apabila adaptasi defensif pada tingkat I tidak sanggup menurunkan stress, individu akan melakukan adaptasi kompensatif, baik secara fisiologis maupun psikologis. Adaptasi ini menimbulkan kesadaran bahwa telah terjadi suatu kegagalan, misalnya meningkatnya rasa haus pada pasien demam dan secara psikologis menggunakan mekanisme kompensasi.
C.                  Tingkat III
Pada tingkat ini mekanisme pertahanan dan kompensatif telah gagal dan menunjukkan adanya masalah kesehatan yang memerlukan adaptasi yang menyeluruh dan mendalam, misalnya rasa sakit, lemah, demam yang terjadi pada proses peradangan. Secara psikologik, penggunaan mekanisme kompensasi yang berlebihan atau penggunaan gejala fisik yang menunjukkan ketidak mampuan seseorang untuk menangani atau mengurangi sumber kecemasan dan merupakan tanda bahwa individu tersebut memerlukan bantuan.
D.                 Tingkat IV
Pada tingkat ini akan timbul stress baru yang memerlukan adaptasi lebih lanjut, karena tidak tepat dan tidak sesuai baik dari segi lokasi maupun intensitasnya. Kemampuan individu untuk beradaptasi telah terganggu dan ia dipaksa untuk bereaksi terhadap stress tambahan yang muncul. Apabila tindakan dari pihak luar tidak sanggup menghentikan siklus stress adaptasi ini, maka akan terjadi kerusakan yang menetap, misalnya suhu tubuh yang meninggi akibat stress mikrobiologis, dapat menimbulkan stress baru yaitu terjadinya ketidak seimbangan cairan dan elektrolit, sedangkan secara psikologis individu tidak mampu lagi menghadapi kenyataan dan mulai menarik diri.
E.                  Tingkat V
Pada tingkat ini biasanya stress banyak dan berat. Fungsi organ dapat terganggu, kehidupan terancam dan gangguan ini dapat bersifat sementara atau menetap, misalnya pada pasien yang mengalami gangguan fungsi ginjal karena obat-obatan, pada umumnya memerlukan bantuan dialisa sampai obat tersebut keluar dari seluruh sistem tubuh pasien tersebut, atau pada pasien yang mengalami oedema laryng karena reaksi alergi, biasanya membutuhkan bantuan berupa trakheotomi, sampai oedema berkurang. Secara psikologis individu akan kalut dan cenderung untuk menggunakan mekanisme pertahanan diri yang berlebihan dan tidak pada tempatnya, juga pikiran serta persepsinya semakin kacau dan kalut ( reaksi kebingungan yang akut ).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar